Sejarah

Pada tahun 1965 di Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya pelayanan kesehatan hanya ada di Puskesmas dan praktek pribadi dilayani oleh mantri padahal penduduknya padat. Penderita sakit kebanyakan berobat ke Tasikmalaya (Ibu Kota Kabupaten) yang jaraknya dari Singaparna +18 km, hal ini menimbulkan beban bagi penderita. Kebetulan putra pengurus yakni Bapak R.H. Wiradimaja yakni Dr. Nana Sunarya bertugas di Manonjaya + 35 km dari Singaparna. Beliau dan seluruh pimpinan cabang berunding untuk mendirikan Balai Pengobatan Muhammadiyah Singaparna.

Alhamdulillah, dengan pengawas Dr.H.Engkon Harjo (Kepala Dekabu Tasikmalaya) berdirilah Balai Pengobatan Muhammadiyah Singaparna. Gedung mengontrak di Kudang, pelaksanan harian Mantri Saleh dan Mantri Suwari. Permodalan di sahamkan keadaan pasien tidak stabil.

Pada tahun 1966 dengan mendapat jariyah dari H.Badrudin, R.H.Wiradimaja dan penjariyah-penjariyah yang lain bisa membeli tanah dan gedung yang sekarang dipakai. Balai Pengobatan segera pindah sekaligus berdirilah Rumah Bersalin ‘Aisyiyah Muhammadiyah Singaparna. Tenaga Bidan bantuan dari DKR yakni Ibu Mintarsih, mereka sekeluarga tinggal di BP/RB, permodalan disahamkan, sebagian di tambah dari infaq dan jariyah.

Keadaan pasien tidak stabil. Pembiayaan ditanggulangi oleh pengurus terutama ibu-ibu ‘Aisyiyah, untuk menghidupsuburkan Rumah Bersalin pada saat itu dibentuk Askes bulanan perorang Rp. 500,00 tapi hanya berjalan + 1 tahun karena penagih dan anggota Askes bosan. Tahun 1967 berdiri Apotek Fajar dipegang oleh Muhammadiyah.

 

Perkembangan

Bidan, perawat, juga pembantu bidan bertempat tinggal di BP/RB. Bidan dan perawat selanjutnya di isi oleh bidan dan perawat yang bermasa bakti dari Kebidanan dan SPK ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Penanggung jawab Dokter Puskesmas Kecamatan Singaparna. Kalau masa kekosongan tenaga medis di BP/RB biasa diisi oleh bidan/perawat dari Departemen Kesehatan. Keadaan pasien pasang surut, lebih-lebih di BP pasien hampir kosong terus, maklum tenaga pelaksana seorang mantri yang baru hadir di BP kalau pasien di rumahnya sudah habis, akhirnya pengolahan BP diserahkan kepengurusannya ke ‘Aisyiyah yang juga mengelola RB.

Pengelola, kemanajemenan, dan administrasinya secara sederhana tidak profesional. Tiap akhir tahun diadakan laporan dan pembagian hasil kepada: andil holder, organisasi dan zakat. Tahun 1993 sesuai dengan S.K PP No. 34/PP/1986 tentang penertiban organisasi permodalan langsung oleh Muhammadiyah, keluhan bidan saham dibeli oleh Muhammadiyah dari mulai andil Rp. 500,00 menjadi Rp.26.500,00 perandil.

Tahun 1995 membuka Apotek Asy-Syifa dengan modal dari Muhammadiyah sendiri, mula permodalan dibantu dari semua AUM Cabang Singaparna seperti dari Pendidikan, PKU, ‘Aisyiyah, SLB, bantuan dari RSI Jakarta Rp.500.000,00. Pinjaman obat-obatan dari RS.Muhammadiyah Bandung, pinjaman uang dari SPK Muhammadiyah Tasikmalaya, dan pinjaman dari pribadi-pribadi pengurus.

Tahun 1996, alhamdulillah ada bantuan tenaga dokter umum yakni Dr.Hafiz Usman Ifa (Pasca PTT) dari Kanwil Depkes. Bulan Agustus 1996 mulai bisa operasi dengan perjuangan yang penuh liku-liku. Keadaan pasien mulai stabil baik ke BP maupun ke RB. Bimbingan dari MPK PP Muhammadiyah (Dr.Sugiat), MPK PWM, RS Muhammadiyah Bandung. MPK PDM, Binkes PPA, Binkes PWA, Binkes PDA, Sampai ranting-ranting juga dari Depkes sangat menunjang semangat dan peningkatan. Bantuan bimbingan atau materil yang telah BP/RB terima ialah penataran-penataran, latihan-latihan dan alat-alat medis (Bet gin, IUD kit, TV).

Tahun 1996 masuk Service Delivery Expantion Support (SDES) Project MPK Wilayah Muhammadiyah Propinsi Jawa Barat. Mulai pertengahan tahun 1996 semua hutang lunas, mulai pengembangan sedikit-sedikit alat medis dan tanah , juga ada bantuan dari SDES berupa bimbingan-bimbingan, dan alat non medis betul-betul sangat menunjang karena selain bisa melayani Yankes ke pelosok-pelosok sekaligus fungsi Muhammadiyah terealisasi.

Tahun 1997 menjadi SDES klinik unggulan dengan membuka PKBM di 3 desa yakni Cipancur, Cipaku, dan Cilolohan dengan kegiatan satu bulan sekali. Meskipun ingin memasukan PKBM ke 3 desa itu ada juga kendalanya.

Di tahun itu juga, yakni tahun 1997 mulai ada spesialis kandungan sebagai dokter cenzeler/minggu 2 kali keadaan pasien belum stabil. Pertama Dr.H.Wardjo kemudian diteruskan oleh Dr.Triono Edy M,Sp.OG karena Dr.H.Wardjo diangkat menjadi Direktur di YARSI Tasikmalaya. Tahun 1999 mulai memperbaiki gedung/lantai 1, alhamdulillah selesai dan sekaligus membangun masjid. Kegiatan pelayanan kesehatan di 3 PKBM tahun 1999 dilaksanakan menjadi 4 kali dalam satu bulan.

Tahun 2000 tepatnya bulan Februari ditambah dokter spesialis anak yakni Dr.Pandji Purnama K,Sp.A, dengan pelayanan /minggu 3 kali sehingga Alhamdulillah pasien bertambah. Tahun 2000 mengembangkan bangunan ke lantai 2.

Alhamdulillah sampai dengan tahun 2005 di RB/BP/BKIA ‘Aisyiyah Muhammadiyah Singaparna telah ada dokter-dokter spesialis.

Seiring dengan perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah, maka pada tahun 2010, RB/BP/BKIA di merger menjadi Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar Aisyiyah-Muhammadiyah Singaparna.

Seiring dengan perkembangannya Klinik Aisyiyah-Muhammadiyah menjadi fasilitas pelayanan kesehatan swasta di Singaparna yang dilengkapi dengan fasilitas penunjang medic yang cukup lengkap dibandingkan competitor lainnya. Klinik dilengkapi dengan laboratorium klinik, fasilitas pemeriksaan jantung, instalasi radiologi yang terdiri dari 1 unit USG 2 dimensi dan satu unit USG4 dimensi serta mesin x-ray 500 mA. Ditunjang dengan tenaga ahli spesialis yang lengkap, menjadikan Klinik Aisyiyah-Muhammadiyah menjadi Klinik rujukan utama pelayanan swasta di Singaparna.